Bagaimana Cara Kerja Trading
Materi 4 dari 4
Going Long dan Going Short dalam Trading
Dalam dunia trading, peluang tidak hanya datang saat harga naik, tetapi juga ketika harga turun. Inilah yang membedakan trading dari investasi jangka panjang. Untuk memanfaatkan kedua kondisi tersebut, trader perlu memahami dua konsep dasar: going long dan going short.
Kedua strategi ini digunakan di hampir semua instrumen trading, seperti forex, indeks, emas, dan komoditas.
Apa Itu Going Long dalam Trading?
Going long adalah strategi trading di mana trader membuka posisi beli (buy) dengan harapan harga akan naik di masa depan. Ketika harga bergerak naik sesuai prediksi, trader dapat menutup posisi dan memperoleh keuntungan dari selisih harga beli dan harga jual.
Cara Kerja Going Long:

Contoh Going Long:
Seorang trader membeli emas di harga 4.600 USD karena memperkirakan harga akan naik. Ketika harga naik ke 4.650 USD, trader menutup posisi dan memperoleh keuntungan dari kenaikan tersebut.
Going long umumnya digunakan saat:
Pasar berada dalam uptrend
Sentimen pasar cenderung positif
Data ekonomi mendukung penguatan harga
Apa Itu Going Short dalam Trading?
Going short adalah strategi trading di mana trader membuka posisi jual (sell) dengan harapan harga akan turun. Strategi ini memungkinkan trader tetap meraih keuntungan meskipun pasar sedang bearish.
Cara Kerja Going Short:

Contoh Going Short:
Seorang trader membuka posisi jual pada pasangan mata uang EUR/USD di harga 1.1640 karena memperkirakan euro akan melemah. Ketika harga turun ke 1.1600, posisi ditutup dan trader memperoleh keuntungan dari penurunan harga.
Perbedaan Going Long vs Going Short
Strategi | Arah Harga yang Diharapkan | Posisi |
|---|---|---|
Going Long | Harga naik | Buy |
Going Short | Harga turun | Sell |
Secara sederhana, perbedaan utama antara going long dan going short terletak pada arah pergerakan harga yang diharapkan. Going long digunakan saat trader optimis harga akan naik, sedangkan going short digunakan ketika trader memprediksi harga akan turun. Keduanya sama-sama memiliki potensi keuntungan dan risiko, tergantung pada analisis dan manajemen risiko yang diterapkan.
Kapan Trader Menggunakan Going Long atau Going Short?
Trader biasanya menentukan pilihan antara going long atau going short berdasarkan:
Analisis teknikal (tren, support & resistance)
Analisis fundamental (data ekonomi, kebijakan bank sentral, sentimen pasar)
Kondisi volatilitas dan likuiditas pasar
Strategi trading yang digunakan (scalping, day trading, swing trading)
Pemahaman yang baik terhadap kondisi pasar akan membantu trader mengambil keputusan yang lebih terukur. Trader yang disiplin tidak menebak arah pasar, tetapi menyesuaikan posisi dengan kondisi yang sedang terjadi.
Risiko yang Perlu Diperhatikan
Baik long maupun short tetap memiliki risiko. Harga dapat bergerak berlawanan akibat:
Volatilitas tinggi
Rilis berita ekonomi
Perubahan sentimen pasar secara tiba-tiba
Untuk mengelola risiko, trader disarankan untuk:
Menggunakan stop-loss
Memahami spread & biaya transaksi
Menyesuaikan ukuran lot dengan modal
Tidak overtrade
Kesimpulan
Going long dan going short adalah fondasi utama dalam trading. Dengan memahami kapan membeli dan kapan menjual, trader dapat memanfaatkan peluang di berbagai kondisi pasar, baik saat harga naik maupun turun.
Namun, memahami arah posisi saja belum cukup. Agar strategi ini berjalan efektif, trader juga perlu memahami bagaimana order dieksekusi, jenis order yang tersedia, serta peran leverage dalam trading, yang akan dibahas pada materi berikutnya.
Materi Selanjutnya

